Arsip Blog

Selasa, 24 Agustus 2010

 
Posted by Picasa

Wawasan, 17 July 2010

Ribuan penderes terjerat utang
Saturday, 17 July 2010

Ribuan penderes terjerat utang

BANYUMAS - Sebagai salah satu daerah sentra penghasil gula merah di Indonesia, Kabupaten Banyumas belum bisa memberikan perlindungan dan kesejahteraan bagi 32 ribu pentani penderes di wilayahnya. Terbukti, ribuan petani penderes secara turun-temurun tetap tidak bisa hidup sejahtera, akibat terjebak hutang pada pengepul. Kondisi ini mencuat saat para petani tersebut dikunjungi oleh anggota Komisi D DPRD Banyumas, dr Budi Setyawan.

Dalam kunjungan ke Desa Kedungurang, Kecamatan Gumelar, ratusan petani penderes mengeluhkan tentang rendahnya harga jual gula produksi mereka yang dibeli oleh pengepul. Harga satu kilogram gula kelapa produksi petani penderes, hanya dibeli seharga Rp 5.500 oleh pengepul. Padahal harga gula kelapa jika dipasarkan ke Purwokerto mencapai Rp 8 ribu per kilogramnya.

Para petani penderes ini tidak bisa mengelak dari para pengepul yang datang, karena sebelumnya mereka sudah terjerat utang. Sehingga gula hasil prosuksi mereka digunakan untuk membayar utangnya. "Dulu di desa ini ada koperasi petani gula kepala. Tetapi sekitar tahun 1970, koperasi tersebut bubar dan sampai sekarang tidak ada lagi.

Sehingga seluruh petani penderes terpaksa menjual hasil gula kepada pengepul atau tengkulak yang datang dengan harga rendah," kata Riswandi, salah satu penderes di Desa Kedungurang.

Para pengepul ini, sebelumnya selalu menawarkan uang pinjaman kepada para petani penderes. Semua kebutuhan mereka, dari mulai memperbaiki rumah atau bahkan hingga untuk biaya sunat anaknya, dibiayai terlebih dahulu oleh pengepul. Imbalannya, semua hasil gula kelapa dijual kepada pengepul tersebut. Kondisi ini sudah berjalan bertahun-tahun dan turun-temurun.

Kurang perhatian
Pendamping Lapangan Program Pertanian dari Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lingkungan Hidup LPPSLH, Hartanto mengatakan, selama ini LPPSLH sudah mendampingi sekitar 852 petani penderes. Dari jumlah tersebut, hampir semuanya terjerat utang dengan pengepul.

Selain itu, pemkab juga dinilai kurang perhatian terhadap jaminan kesehatan para petani penderes. Padahal tingkat kecelakaan para petani sangat tinggi, dalam satu bulan saja, di satu desa ada tiga orang penderes yang jatuh dan dua di antaranya meninggal dunia. Sekalipun sudah meninggal satu bulan lalu, namun santunan dari pemkab sampai sekarang belum turun.

"Padahal dalam APBD ada anggaran untuk santunan petani penderes yang mengalami kecelakaan ataupun meninggal dunia. Untuk yang meninggal dunia mendapat santunan Rp 2 juta, tetapi korban meninggal yang terakhir, yaitu Pak Warsito sampai sekarang belum mendapat santunan, " jelas Hartanto.

Dalam dialog bersama para petani penderes, anggota DPRD Banyumas dari Fraksi PDIP, dr Budi menyatakan, jalan satu-satunya untuk melepaskan diri dari jeratan para pengepul, para petani penderes harus menghidupkan kembali kopersi.

Kopersi tersebut nantinya akan membeli gula kelapa milik petani dengan harga sesuai pasaran. "Dengan didampingi teman-teman dari LSM ini, saya yakin bapakbapak bisa kembali menghidupkan koperasi demi kesejahteraan kita bersama.

Nantinya, utang kepada para pengepul dibayar dengan separuh hasil gula kelapa, dan sisanya dijual ke koperasi dengan harga yang lebih tinggi. Sedikit demi sedikit hal ini akan mampu menyelesaikan permasalahan para petani penderes, " papar dr Budi. Terkait jaminan kesehatan para petani penderes yang setiap harinya naik pohon sampai 30-40 pohon, dr Budi menyarankan untuk membuat asuransi bagi para penderes. hef-Hr

[Kembali]

© 2010 WawasanDigital
IT Koran Sore Wawasan

Tungku Gula kelapa


Sambil memandang tungku gula merah di depannya,Pak Tori tersenyum lebar. Bagaimana tidak, tungku yang dibuatnya beberapa hari yang lalu itu ternyata dapat menghemat kayu bakar. kayu bakar yang biasanya dipakai satu hari, dengan tungku barunya, dapat untuk memasak 4 hari.

Sebelumnya, lobang tungku diisi dengan daun dan ranting kering kemudian dibakar. setelah tungku panas, tinggal dijaga apinya dengan satu batang kayu bakar. Coba kalau seluruh pengrajin gula di Banyumas beralih menggunakan tungku ini, akan ada penghematan di 29.000 lebih pengrajin.

Jumat, 20 Agustus 2010

Cengkeraman itu..

Berawal dari pertemuan kami malam itu disebuah cafe di jalan Jenderal Soedirman, sungguh menjadi pelajaran berharga bagiku. Kami asik membicarakan mengenai pertanian organik. Aku, Mbak Endah, Pak Hidayat, Kukuh dan Tutu. Bagaimana keseimbangan alam harus dijaga, kerusakan yang cukup parah yang dialami tanah dan air dipedesaan, produk produk makanan yang tidak layak makan menjadi santapan sehari hari manusia...(Disebelah kanan kiriku, dimeja lain, beberapa orang ngobrol sambil menyantap makanan yang tersaji di meja)

Bersepakatlah kami..bahwa pertanian organik harus dikembangkan dan...global warming menjadi ancaman yang semakin nyata yang harus disikapi dengan penghematan energi...

Secara tak sengaja aku menatap dinding ruangan cafe yang pastinya diwarnai dengan cat kelas 1, lantai marmer, lampu redup yang hampir ada disetiap lekuk dinding yang banyak lekuk lekuknya, ornamen kayu yang jelas juga nomer 1, dan asap dingin yang keluar dari pendingin ruangan...musik mengalun pelan pelan dari..dimana ya, tak kulihat spikernya..hehe..

Global warming, benar menjadi sesuatu yang harus kita waspadai, karena daya dukung lingkungan semakin berkurang, tetapi, realitanya adalah 70 % pemakaian energi dunia ada dinegara maju..
Pertanian organik, benar, tetapi justru negara maju melakukan rekayasa genetika..
Fair Trade, aku sepakat, tetapi mengapa ketimpangan ini semakin jauh...perusahaan perusahaan besar semakin kuat menguasai pasar dunia...
Betapa hasil pertanian petani dinegara berkembang harus melewati proses yang panjang luar biasa untuk masuk ke negara maju..(harus disertifikasi, organik, ramah sosial dsb)
Produk negara maju bebas berkeliaran (didukung pasar bebas)masuk ke negara berkembang..

Rabu, 18 Agustus 2010

Tak pernah selesai..

Aku benar benar merasa bersalah hari ini. (jelas ini defisit..smangat..smangat..). Rapat program pada hari ini menjadi terhenti dalam ketidakpastian. Sekitar 1 jam kemudian, tanpa ditutup, akhirnya peserta satu persatu meninggalkan tempat. ( maafkan aku kawan2..)Ini diawali dari usulanku yang melihat agenda yang dibahas bukan jalan keluar dari permasalahan. Betapa tidak, dari dulu berkutat hal itu terus menerus, tanpa mencoba rencana awal dijalankan terlebih dahulu. huh...bolak balik..dari rapat ke rapat. Mungkin baiknya seperti ini, menghentikan rapat daripada menghabiskan waktu dengan hasil yang gak jelas.

Ini ditempatku berada. Nun jauh disana...pemerintah bernafas lega setelah membebaskan warganya, lebih tepatnya perangkatnya, dari tahanan bangsa lain setelah ditukar dengan 7 orang pencuri ikan. Berbagai tanggapanpun merebak, tak kurang anggota dewan terhormat, aktifis, masyarakat, dan..hehe..aku sendiri..

Sebelumnya,..nun disana juga..3 artis ibu kota disibukan dengan jadwal ketat (disertai tatapan nanar jutaan pasang mata)pemeriksaan dari aparat keamanan negeri ini...

Sebelumnya lagi, tau dong,..para pejabat pajak yang dikejar pak Polisi..

Besok, berita apa lagi ya...

Dulu, sih, yang lekat dalam ingatanku, Marsinah, Udin, Munir...ramai betul pemberitaannya...

Jujur saja, aku merasa takut dengan kesadaranku saat ini. smakin lama sulit untuk berkompromi dengan keadaan. Yang aku takutkan adalah, bisa bisa aku dianggap sakit. Atau aku sendiri yang menyebabkan sakit ya? kalau aku ngomong, bisa jadi, akan ada orang yang sakit hati. Kalau aku diam, aku sendiri yang memendam sakit.

Apa jadi manusia kamar-nya seno gumira ajidarma aja? ah,...nggak kalee...truss???
setidaknya aku jadi tau sekarang, mengapa ada manusia kamar.

Hari hari ini aku memang harus banyak bersabar. Banyak menarik nafas panjang. Tak selamanya aku benar,...hufffff,.....biarkan..biarkan...(pembiaran??)

Negeri yang tak pernah menyelesaikan masalahnya...apakah aku harus mengikutinya??..(tuh kan, pernyataan defisit lagi..)

Jumat, 30 Juli 2010

Ibu


Suaranya sedikit bergetar saat berkata kepadaku. Tampak beliau tahu benar apa yang kurasakan saat ini. Sebagai seorang ibu yang melahirkan dan membesarkan sendiri anak anaknya, hampir semua kebiasaan kami, tak lepas dari penglihatan ibu. Dan, malam itu, sepulang dari tempat kerjaku, aku singgah dulu menemui ibu.

Kami duduk berdua. ibu mulai bercerita saat kami tinggal di Magelang dulu, saat itu Bapak bekerja sambil menyelesaikan studinya. Kami masih berempat saat itu, dengan kakak perempuanku, adikku masih di kandungan. kala itu, hampir saja Bapak tidak dapat menyelesaikan kuliahnya karena biaya hidup di kota, menanggung kami berempat, cukup tinggi. Kami mengontrak rumah kecil di daerah Bayeman. Untunglah saat itu ada seorang lelaki tua beserta isterinya, tinggal disebalah kontrakkan kami, membantu ibu menjaga aku dan kakakku. Adikku lahir tak lama setelah Bapak menyelesaikan studinya. aku ingat betul masa masa itu. aku sendiri lahir di Dusun Sono Desa/Kecamatan Kedawung Sragen. Mungkin karena itu aku diberi nama Wicaksono. Kan aneh juga kalo dinamai Wicak kedawung. hehe...

Ibu memang tidak dengan tiba tiba menceritakan itu padaku. kegalauan hatiku yang kerasakan beberapa hari ini terbaca oleh ibu. Aku, memang harus menekan perasaan itu. kerinduanku pada bening mata si kecil hadir setiap saat. Isteriku memang harus bekerja, yang kebetulan peluang itu ada di kota kelahirannya. Hanya mengandalkan dari penghasilanku mana mungkin cukup. Meski sebelum itu kami sudah melakukan penghematan disana sini. Dan, aku, mungkin seperti bapak saat itu. Bapak, saat itu untuk memberi nafkah keluarga, bekerja dari pagi sampai sore, berpindah dari satu kota ke kota yang lain. Sragen, Magelang, Semarang, Purwokerto, balik Sragen lagi,kemudian Baturaja, Lahat, Palembang hingga pulang ke Sragen. Menurut ibu, aku sekarang masih lebih enak dibanding bapak dulu. betul juga, pikirku.
Akupun sebenarnya setiap akhir pekan, itu yang selalu kutunggu, bisa bertemu dengan isteri dan anak anakku. Bercanda dengan Ping, mendengar rengek Fe, dan menatap bening mata Has. Juga, nikmatnya nasi goreng buatan isteriku..(kadang kadang...hehe..)

Dan, ini semua harus kujalani, sambil berharap saat bersama itu segera hadir. Suatu saat, pasti kamu berkumpul kembali, begitu kata Ibu.
Semoga.
Terimakasih, Ibu...

Selasa, 02 Februari 2010

Anak Kos

Menulis sebenarnya bukanlah kebiasaanku sejak kecil. Aku paling malas menulis. Bukan saja tulisanku yang buruk. Seperti cakar ayam yang mencari cacing. Kini, saat kesibukanku memuncak, justru keinginan itu meluap tak terbendung. Disela sela kegiatan dilapangan, disela bercanda dengan anak anak, disela bertukar pikiran dengan isteriku, muncul begitu saja. Beruntunglah, meski masih kos diblogspot, tetapi setidaknya ruang ini cukup memberikan tempat untuk menghela napas sejenak.Lagian, tulisanku menjadi seperti rugos dibantu oleh Microsoft Word.