
Suaranya sedikit bergetar saat berkata kepadaku. Tampak beliau tahu benar apa yang kurasakan saat ini. Sebagai seorang ibu yang melahirkan dan membesarkan sendiri anak anaknya, hampir semua kebiasaan kami, tak lepas dari penglihatan ibu. Dan, malam itu, sepulang dari tempat kerjaku, aku singgah dulu menemui ibu.
Kami duduk berdua. ibu mulai bercerita saat kami tinggal di Magelang dulu, saat itu Bapak bekerja sambil menyelesaikan studinya. Kami masih berempat saat itu, dengan kakak perempuanku, adikku masih di kandungan. kala itu, hampir saja Bapak tidak dapat menyelesaikan kuliahnya karena biaya hidup di kota, menanggung kami berempat, cukup tinggi. Kami mengontrak rumah kecil di daerah Bayeman. Untunglah saat itu ada seorang lelaki tua beserta isterinya, tinggal disebalah kontrakkan kami, membantu ibu menjaga aku dan kakakku. Adikku lahir tak lama setelah Bapak menyelesaikan studinya. aku ingat betul masa masa itu. aku sendiri lahir di Dusun Sono Desa/Kecamatan Kedawung Sragen. Mungkin karena itu aku diberi nama Wicaksono. Kan aneh juga kalo dinamai Wicak kedawung. hehe...
Ibu memang tidak dengan tiba tiba menceritakan itu padaku. kegalauan hatiku yang kerasakan beberapa hari ini terbaca oleh ibu. Aku, memang harus menekan perasaan itu. kerinduanku pada bening mata si kecil hadir setiap saat. Isteriku memang harus bekerja, yang kebetulan peluang itu ada di kota kelahirannya. Hanya mengandalkan dari penghasilanku mana mungkin cukup. Meski sebelum itu kami sudah melakukan penghematan disana sini. Dan, aku, mungkin seperti bapak saat itu. Bapak, saat itu untuk memberi nafkah keluarga, bekerja dari pagi sampai sore, berpindah dari satu kota ke kota yang lain. Sragen, Magelang, Semarang, Purwokerto, balik Sragen lagi,kemudian Baturaja, Lahat, Palembang hingga pulang ke Sragen. Menurut ibu, aku sekarang masih lebih enak dibanding bapak dulu. betul juga, pikirku.
Akupun sebenarnya setiap akhir pekan, itu yang selalu kutunggu, bisa bertemu dengan isteri dan anak anakku. Bercanda dengan Ping, mendengar rengek Fe, dan menatap bening mata Has. Juga, nikmatnya nasi goreng buatan isteriku..(kadang kadang...hehe..)
Dan, ini semua harus kujalani, sambil berharap saat bersama itu segera hadir. Suatu saat, pasti kamu berkumpul kembali, begitu kata Ibu.
Semoga.
Terimakasih, Ibu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar