Sejak pertengahan Desember bulan lalu, kami mengadakan pelatihan pembuatan gula semut dengan kwalitas great A ke 7 wilayah desa Sertifikasi Gula Kelapa Organik. Setelah kemarin pelatihan di Kecamatan Sokawera grumbul Kejubug, tepatnya dirumah Bu Khusnul, Pak kusen dan Pak Musholi, hari ini kami meluncur ke Desa Kedungurang Kecamatan Gumelar. Lokasinya sekitar 25 km dari Purwokerto. Kali ini tempat yang kami tuju yaitu di rumah Pak Sakun dan Pak Kuryoto. Kami mengajak salah satu kader dari pageraji, Nartam, untuk membantu dalam pelatihan pembuatan gula semut ini. Maklumlah, di Kedungurang membuat gula semut adalah hal yang baru. Selama ini belum pernah ada penderes yang membuat gula semut. Berbeda dengan di Kecamatan Sokawera, Pageraji, Rancamaya dan Sunyalangu yang memang sejak dahulu LPPSLH sudah melakukan pendampingan pembuatan gula semut. Di wilayah Sokawera sendiri sekitar tahun 1995 pernah didampingi LSM Argo Wilis yang dikoordinir mas Adib dimana banyak pengrajin gula yang sudah memproduksi gula semut secara rutin.
Sampai di Kedungurang Grumbul Ciwera, kami langsung membagi tim menjadi 2, satu mendampingi di rumah Pak Sakun, satunya lagu mendampingi di rumah Pak Kuryoto. Dirumah pak Sakun, setelah nira ditakar sebanyak 50 liter, kemudian dimasukkan wajan yang sudah disiapkan diatas tungku. Tungku milik Pak Sakun memang terlihat sedikit berbeda dari tetangganya yang lain. Tempat kayu bakar ditungku ada 2, yang bawah untuk kayu yang sudah kering yang langsung dinyalakan, diatasnya tepat di pintu tungku ditaruh kayu bakar lagi, untuk kayu yang masih basah agar segera kering. Ini cukup membantu pengeringan kayu. Dengan tungku ini Pak Sakun dapat mengeringkan kayu yang masih basah tanpa menggunakan para atau sragen. Selama ini penderes membuat tempat pengeringan kayu diatas tungku atau mereka menyebutnya para atau sragen. Para atau sragen ini dapat saja mengotori nira yang sedang dimasak dibawahnya.
Setelah nira dimasak sekitar 5 jam, tercium harum aroma khas gula kelapa dan di udak seperti gulali, nira siap untuk diangkat dari tungku. Secara bergantian kami mengaduk nira yang mulai mengering dan diguser perlahan lahan.
Kegiatan ini melibatkan kader pertanian yang ada di Kedungurang, yaitu Juli,Yanto, Eko, Kuseri, dan Wagyo. Mereka terlihat aktif ikut membantu memberikan pemahaman mengenai pembuatan gula semut ini ke Pak Sakun dan isterinya juga beberapa orang tetangga sekitar yang datang.
Dari 50 liter nira yang dimasak, dihasilkan gula semut 7 kg. gula semut yang dibuat kali ini termasuk kualitas yang bagus. Gulanya berwarna cerah dan lembut. Untuk mengecek kebersihannya, kami mengambil segelas air, kemudian melarutkan 3 sendok gula semut kedalamnya. Setelah diaduk dan betul betul larut, tidak terlihat kotoran didalamnya, baik itu yang mengendap maupun yang mengambang diatasnya. Kualitas gula semut ini memang sangat dipengaruhi oleh kualitas nira. Jika niranya bening, tidak ada sekulnya, maka dapat dipastikan gula semutnya juga bagus. Tinggal memperhatikan proses pemasakannya agar tetap higienis. Selama ini nira yang dideres Pak Sakun selalu berkualitas bagus dan gula cetak yang dihasilkan juga bagus. Meski selisih sedikit, di pengepulnya sendiri, gula milik pak Sakun di hargai berbeda dari pengrajin gula yang lain. Selisih Rp. 100 – Rp. 200.
Berbeda dengan hasil yang didapat di rumah pak Kuryoto, niranya tidak bisa dibuat gula semut, hasilnya masih dalam bentuk butiran besar atau yang biasa disebut gula brondol. Ini kemungkinan disebabkan proses pemasakan nira yang kurang lama. Untuk pembuatan gula semut, masaknya nira lebih lama beberapa menit disbanding membuat gula cetak.
Sekitar pukul 14.00 kami menuju rumah Pak Waslum di Grumbul Cimenga. Rencananya kami akan membuat gula semut dari gula cetak atau njebor di rumah Pak Waslum. Namun setelah melihat gula cetak milik Pak Waslum yang kurang keras, kami mengurungkan niat. Untuk membuat gula semut, gula cetaknya harus kualitas yamg bagus, yaitu gulanya keras (tidak lembek). Di musim hujan saat ini memang kualitas nira kurang bagus. Bahkan, kemarin dibeberapa tempat di Sokawera ada yang tidak dideres niranya karena hujan sore itu yang cukup lebat disertai petir. Mereka biasa menyebut dengan bongkoran. Baru paginya nira tersebut dideres yang tentu saja kualitasnya kurang bagus, karena nira deresan hari itu sebetulnya nira kemarin yang tidak sempat dideres. Kalau diolah biasanya menjadi gula benyek atau gemblung.
Pukul 17.15 kami meluncur pulang menuju Purwokerto. Esoknya, sesuai rencana kami akan mengadakan pelatihan membuat gula semut di Kecamatan Sokawera Desa Sokawera grumbul Larangan tepatnya di rumah pak Rahman dan Pak Warsito.
2 komentar:
mas bisa tahu cara pembuatan certifikat organik palm sugar yang di keluarkan oleh switzerland tidak,kami sedang membutuhkan itu untuk membantu produk kami.
salam farid
fauzifarid7@gmail.com
saya tidak paham pembuatan organik palm sugar yang di keluarkan switzerland, mas.. saat ini yang sedang kita lakukan pengajuan sertifikasi dari lembaga controlunion, kalo gak salah dari Belanda.
Posting Komentar