Arsip Blog

Selasa, 22 Desember 2009

Penderes Kelapa Krajan


Siang itu Ranto (30) , setelah selesai menderes kelapa, dengan dibantu isterinya, sibuk membuat gula semut. Setelah nira hasil deresan kemaren sore dan hasil hari ini dimasak diatas tungku sekitar 6 jam, dimulai pukul 06.00 sampai pukul 12.00, mereka berdua mengolah nira tersebut untuk dibuat gula semut. Ranto dan sekitar 21 orang penderes di Krajan sebenarnya bukan asli penduduk setempat. Semua penderes di Krajan berasal dari luar wilayah Krajan, sebagian besar berasal dari Kabupaten Cilacap. Ranto sendiri berasal dari kecamatan Gandrungmangu. Dia bersama isteri dan seorang anaknya yang berusia 5 tahun sudah 3 tahun tinggal di Krajan dengan bekerja sebagai penderes kelapa. Ruangan berukuran 3 X 5 meter yang terbuat dari anyaman bambu difungsikan sebagai tempat mengolah gula kelapa sekaligus tempat tinggal bagi dia dan keluarganya. Sebagian ruangan disekat sederhana untuk kamar tidur sisanya 2 buah tungku, satu untuk memasak nira, satu lagi disebelahnya dengan ukuran lebih kecil digunakan untuk memasak. Rumah tersebut lebih menyerupai gubuk. Disana sini banyak lubang yang tentunya angin dengan leluasa dapat masuk. Rumah tersebut disediakan oleh Pak Warno, pengepul setempat, yang dibayarkan dengan cara mengangsur dari gula kelapa yang disetorkan.

Setelah bergabung menjadi anggota ICS, Ranto mulai membuat gula semut. Meski ini sebenarnya hal yang baru buat dia, tetapi dengan melakukan percobaan beberapa kali, akhirnya dia berhasil membuat gula semut dengan kualitas yang cukup baik. Ranto juga mendapat pelatihan pengolahan gula kelapa dengan proses yang lebih hieginis dan lebih baik sehingga dihasilkan gula kelapa dengan kualitas bagus. Misalnya kebersihan wajan setelah dipakai, kebersihan arit untuk memotong manggar, mencuci pongkor setelah dipakai, ketepatan waktu menderes dan memasak, dan penyimpanan gula yang sudah jadi untuk kemudian dikirim ke pengepul. Teman temannya yang lain belum banyak yang tertarik untuk membuat gula semut meski ada tawaran harga dengan selisih Rp.1500 dari gula cetak.

Dengan menderes 41 pohon kelapa yang disewanya dari Pak Ruri dan Pak Daryo, penduduk setempat, Ranto mampu menghasilkan 18 kg gula semut setiap harinya. Jika harga gula semut ini saat ini Rp 8000, maka perharinya Pak Ranto mendapat penghasilan dari penjualan gula Rp 144.000 . ini masih dikurangi untuk pembelian kayu bakar dan sewa pohon kelapa. Untuk memasak nira sekitar 6 jam setiap harinya diperlukan kayu bakar 2 pikul yang biasanya dia beli dari pencari kayu bakar yang berjalan pulang lewat didepan rumahnya dengan harga Rp 17.000 tiap pikulnya. Sewa pohon kelapa sejumlah 41 pohon sebesar 1kg per pohon sehingga total dia harus membayar 41 kg tiap bulannya.

Dengan sertifikasi ini penderes juga tertantang untuk membuat gula semut dengan kualitas bagus. Selama ini penderes membuat gula cetak dengan pengolahan yang sekedarnya, asal jadi. Mereka tidak begitu memperdulikan kebersihan pongkor maupun alat alat masak lainnya. Karena bagaimana bagusnya gula yang mereka buat, toh harganya tetap sama dengan yang lain atau biasa disebut dengan kualitas kecap karena memang gula tersebut digunakan untuk membuat kecap.

Sore itu, setelah selesai membuat gula semut dan dikemas dalam kantong plastic, Ranto bersiap untuk melakukan rutinitas yang dilakukannya setiap hari. Pongkor bambu yang sudah diisi dengan laru dari cairan kapur sudah siap untuk dibawa. Memanjat 41 pohon kelapa setiap pagi dan sore hari sudah menjadi kewajibannya untuk memperoleh nira sebagai bahan membuat gula semut.

1 komentar:

Sisimaya mengatakan...

Salam kenal mas Hartanto, saya kebetulan nyasar ke blognya Mas. Kayanya kita punya kesamaan ini, seneng blogging dan bercita-cita jadi penulis (kalo saya nggak salah).
Cuman bedanya Mas mulai lebih dulu, saya baru kenal blog tahun 2010, hehehe...
Smoga sukses ya dengan cita-citanya, keep writing.