Menjelang pagi. Sebentar lagi matahari di hari terakhir di tahun 2009 terbit diufuk timur. Mataku belum juga mau terpejam. Siang kemaren, setelah mengadakan percobaan membuat gula semut dengan kualitas grate A dirumah Bu Sangadah, seorang pengrajin gula kelapa yang tinggal di Pageraji, saya meluncur ke Kedungurang salah satu desa di Kecamatan Gumelar Banyumas. Sebenarnya aku ingin menyelesaikan pelatihan advokasi selama hari yang diadakan teman2 dari program ASA di Baturaden, kebetulan hari ini hari terakhir, tapi kebutuhan percepatan dilapangan di program ini mengharuskanku menyiapkan lapangan.
Disebelahku kawan2 kader kedungurang nampak terlelap. Maklumlah, mereka harus mengembalikan energi setelah beraktifitas yang padat di siang kemaren. Juli, seorang kader, dimana tempat aku menginap malam ini, mempunyai 2 ekor kerbau dan 5 kambing yang harus dicarikan makan setiap harinya. Besok, rutinitas itu harus dijalaninya kembali. Ditambah saat ini musim tanam padi Dia memang berbeda dengan kebanyakan remaja pada umumnya dikampungnya, grumbul Ciwera, yang sebagian besar merantau ke ibu kota. Atas permintaan dari orang tuanya, Juli membantu kesibukan orang tuanya di rumah. Bapaknya bertani padi. Menderes kelapa hanya sampingan, sekitar 15 pohon, untuk menambah penghasilan keluarga. Juli menjadi kader di desanya lewat program Kehutanan LPPSLH dengan program Penanggulangan Daerah Rawan Bencana di kedungurang. Setelah sertifikasi gula kelapa ini, semakin sering aku berinteraksi dengan dia. Demikian juga dengan Yanto. Orang tuanya selain bercocoktanam, juga menderes kelapa. Deresannya mencapai 32 pohon.
Berbeda dengan di wilayah Pageraji yang sedikit tanah persawahannya, di sini menderes kelapa menjadi pekerjaan sampingan selain bertanam padi. Sehingga dalam pengelolaan deresan kelapa tidak seteliti di Pageraji. Misalnya Pak Sirun, seringkali gulanya kurang bagus. Gula cetakan kemaren tampak hitam, sedikit lembek dan berbau sangit. Pak sirun membuat gula cetak 2 hari sekali, padahal seharusnya setiap hari memasak. Nira sadapan sore di panaskan, kemudian dicampurkan dengan deresan pagi dan sorenya lagi, kemudian dipanaskan lagi, barulah hari berikutnya dimasak. Menurut pak Sirun, niranya hanya sedikit sehingga tanggung kalau di buat setiap hari. Akibatnya, seringkali gulanya benyek atau masyarakat disini menyebutnya gemblung atau Gula gemblung. Kalau sudah seperti itu, bisa dipastikan, harganya tak lebih dari Rp. 5000/kg. Bandingkan dengan gula cetak yang saat ini dihargai Rp 6.500/kg.
Siapa yang pertama menyebut gula yang tak bisa dicetak itu dengan gula gemblung, tak ada yang tahu. Yang pasti jika musim hujan datang, saat cuaca panas, atau akar baru mulai tumbuh, bisa dipastikan nira dipongkor kebanyakan muncul buih buih putih atau sekul. Kalau menurut Pak Dikam, saat muncul akar baru, pohon terlalu banyak menyerap air dari dalam tanah, yang kemudian sisanya dikeluarkan dalam bentuk sekul.
Fenomena gula gemblung, di beberapa penderes dianggap sebagai kekuatan alam yang tidak dapat dirubah. Ini menjadi tantangan bagiku. Tak mudah memang menjelaskan kepada mereka dengan alasan ilmiah. Gula gemblung ya tetep gemblung. Gemblung karena nira sekulen, kalau tidak sekulen tidak gemblung, begitu pendapat mereka. Namun di penderes yang tekun seperti pak Yanto dan Nasrori di Pageraji, Pak Ranto di Krajan dan Pak Sakun dan pak Kuryoto di Kedungurang itu bisa diatasi dengan ketekunan dan ketelitian.
Dari hasil diskusi tadi malam dengan Pak Sakun dan Pak Kuryoto, perlakuan terhadap nira sangat mempengaruhi hasil gulanya. Misalnya jika masa sekulnya banyak, manggar dicuci dengan air nira dan talinya dilepas. Saat nira sudah sampai di dapur, segera di masak, tidak menunggu lama. Gula cetak yang dihasilkan kedua penderes ini termasuk kualitas bagus dan tidak pernah benyek atau gemblung.
Diluar, sinar matahari pagi, dihari terakhir tahun ini, membuncah diantara sela daun daun pohon kelapa. Merayap perlahan tapi pasti menyinari jagad ini. dan, disini, salah satu sisi dari bola bumi ini, Pak Sirun mulai menyiapkan pongkor pongkor bambu yang sudah diisi laru. Tanpa terucap, tentunya berharap, nira yang disadap hari ini lebih baik lagi, jauh dari gemblung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar